SYIRIK KECIL YAITU RIYA’








“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil” Para sahabat bertanya, ” Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ” Riya kelak dihari kiamat ketika amalan manusia diberi balasan Alloh ‘Azza wa Jalla akan mengatakan kepada mereka yang berbuat Riya’ “Pergilah kepada orang yang kamu harapkan pujiannya sewaktu didunia dan lihatlah Apakah kamu mendapati pahala dari mereka?”(HR.Ahmad dalam musnadnya no.23680)
Riya’ adalah sifat orang munafik sebagaimana firman Alloh yang artinya”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh dan Alloh akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk solat mereka berdiri dengan malasnya mereka riya’ kepada manusia dan tidak mengingat Alloh kecuali sedikit saja”(An-Nissa;142)
Sifat yang menakutkan seperti Dajjal seperti hadist berikut Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam menemui kami, pada saat itu kami sedang memperbincangkan Al-Masih Dajjal beliau bersabda, ” Maukah aku kabarkan kepadamu yang lebih aku takutkan untuk menimpamu dari Al-Masih Dajjal? “Syirik kecil yaitu seseorang berdiri solat lalu ia memperbagus solatnya karna ada orang yang memperhatikannya”(HR.Ibnu Majah no.4204)
Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli. (HR. Ad-Dailami).
Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan. (HR. Bukhari)
” Dan hati mereka ragu-ragu , karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya”(QS.At-Taubah ;45)
” Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya” (QS.al-Fath;58)
Beberapa contoh sifat riya selain mengharapkan pujian dari manusia diantaranya adalah:
Terlalu berani berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar,
Sibuk dengan ilmu ysng bersifat fardhu kifayah dan meninggalkan yang fardhu’ ain,
Suka berdebat dan bertengkar dalam urusan Agama,
Marah bila dikritik,
Bersikap dingin(benci) terhadap orang yang menyelisihinya, Dan
Berbangga dengan banyaknyaengikut / golongan.
Apalah arti penilaian manusia, begitupun dengan segala pujian, benar salahnya yang tahu kita.
Jangan goyah, jangan lemah berjalan menuju Surganya. ALLOH yang menemani langkah dan menjaga hati kita.
Hati kita boleh retak karna ibadah kita yang tiada meningkat, hati kita boleh cemburu kepada hamba lainnya yang taat
Hindari sifat riya’ dengan menjaga Alloh dalam setiap perilaku niscaya Alloh akan menjagamu
“Aku pernah di boncengkan Nabi, pada suatu hari lantas beliau bersabda”Wahai anak kecil aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang bermanfaat bagimu jagalah batasan hak-hak dan perintah Alloh niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Alloh niscaya engkau dapat menemuinya dihadapanmu. Bila engkau ingin meminta, mintalah hanya kepada Alloh. Bila engkau hendak meminta pertolongan mintalah hanya kepada Alloh. Ketahuilah bahwa walaupun semua manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan suatu hal mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan apa yang Alloh takdirkan bagimu. Dan sekalipun mereka bersepakat untuk memudaratkanmu dengan sesuatu hal mereka pasti tidak akan bisa meemberi mudarat kecuali dengan apa yang Alloh tuliskan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran(takdir) telah mengering.” (HR. Tirmidzi 2516)
Allah berfirman :
“Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaknya ia beramal shalih dan jangan melakukan kesyirikan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan seorangpun. ” (QS. A1 Kahfi : 110).
Salah satu bentuknya adalah sesajen. Sesajen berarti sajian atau hidangan. Sesajen memiliki nilai sakral di sebagaian besar masyarakat kita pada umumnya acara sakral ini dilakukan untuk ngalap berkah (mencari berkah) di tempat-tempat tertentu yang diyakini keramat atau di berikan kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan ghaib, semacam keris, trisula dan sebagainya untuk tujuan yang bersifat duniawi.
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata:
Tidaklah suatu ummat mengada-adakan suatu bid’ah dalam Dien mereka, kecuali akan Allah angkat dari mereka suatu sunnatul huda dan tidak akan kembali selamanya. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam kitab As-Sunnah, hal. 24; lihat Al-Hujaj Al-Qawiyyah, hal. 41).
Perhatikan pula ucapan Ahmad bin Sinan Al-Qaththan:
Tidak ada seorang mubtadi’ pun di dunia, kecuali ia membenci ahlul hadits. Jika seseorang mengada-adakan suatu bid’ah, maka akan dicabut kemanisan hadits (sunnah) dari hatinya. (diriwayatkan oleh Abu Utsman As-Shabuni dalam Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hal 116-117. Berkata Syaikh Badr Al-Badr dalam Tahqiqnya: Riwayat ini sanadnya hasan).
Perjalanan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ini menunjukkan betapa besarnya perkara tauhid ini. Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, “Dan perkara yang paling agung, yang Allah perintahkan adalah Tauhid yang artinya mengesakan Allah dalam beribadah, sedangkan larangan yang paling besar adalah Syirik yang artinya beribadah kepada Allah tetapi disertai juga beribadah kepada selain-Nya.” (Syarh Tsalatsatul Ushul Muhammad at-Tamimi, Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin).
Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya : “Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa : 36)
marilah kita simak ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang masalah ini dalam kitabnya Iqtidla As-Shirathil Mustaqim: “… jika seorang hamba memenuhi beberapa kebutuhannya dengan selain amal-amal yang disyariatkan, akan berkurang keinginannya terhadap perkara-perkara yang disyariatkan.” Dan berkuranglah manfaat yang dia peroleh, sesuai dengan banyaknya perkara baru (bid’ah) yang dia penuhi.
Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Tidaklah suatu kaum mengada-adakan satu kebid’ahan, kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu sunnah yang sebanding dengannya (HR. Imam Ahmad 4/105 dan disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam Jami’us Shaghir, juz 2 hal. 480 hadits no. 7790. Beliau berkata: hadits ini hasan, demikian dalam Tahqiq Iqtidla. Adapun Abdus Salam bin Barjas menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah, lihat Al-Hujaj Al- Qawiyyah, hal. 86).
Hal ini akan didapati oleh seorang yang melihat dirinya dari kalangan orang berilmu, ahli ibadah, para pemerintah atau pun orang awam.” (Iqtidla As-Shirathil Mustaqim 1/483-484)





Sumber: https://ayurizkiyaniucha.wordpress.com/2013/09/page/5/
Previous
Next Post »